Bahasa Gaul

Maraknya Penggunaan Bahasa Gaul Di Kalangan Remaja Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari masyarakat lebih senang menggunakan ragam bahasa yang yang tidak resmi.

Dewasa ini, penggunaan bahasa indonesia di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda sedikit tergusur dengan bermunculannya bahasa gaul. Saat ini bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media-media populer serperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan seringkali pula digunakan dalam bentuk publikasi-publikasi yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja populer. Karena jamaknya, terkadang dapat disimpulkan bahasa gaul adalah bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.Karenanya akan menjadi terasa 'aneh' untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain menggunakan bahasa indonesia formal.

Sebenarnya, bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai 'bahasanya para bajingan atau anak jalanan' disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Namun, bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa gaul. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang digunakan oleh golongan tertentu. Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.

Struktur dan tatabahasa dari bahasa gaul tidak terlalu jauh berbeda dari bahasa formalnya (bahasa Indonesia), dalam banyak kasus kosakata yang dimilikinya hanya merupakan singkatan dari bahasa formalnya. Perbedaan utama antara bahasa formal dengan bahasa gaul utamanya adalah dalam perbedaharaan kata.

Bahasa gaul umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak variasi dan perbedaan dari bahasa gaul bergantung pada kota tempat seseorang tinggal, utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnis-etnis yang menjadi penduduk mayoritas dalam kota tersebut.

Meskipun demikian, bahasa gaul bukanlah bahasa Indonesia resmi, meskipun bahasa ini digunakan secara luas dalam percakapan verbal dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu efek dari maraknya penggunaan bahasa gaul, banyak orang asing yang belajar Bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa informal dan gaul. Jadi, lestarikanlah penggunaan bahasa indonesia formal agar kita tidak merasa asing di negeri kita sendiri. Bukan begitu?

Dee_Imani *SMA IT*

lg sibuk buat raport neh..

UK dah hampir selesai
sehari lagi..
tapi tugas juga dah menunggu lagi
buat laporan belajar murid

ya raport semester 1
hmm ga terasa ya dah hampir 6 bulan aku di sini
di sekolah yang penih kenangan
SMA IT Al Irsyad Purwokerto

ternyata jadi gurru tuh susah ya
harus perfect
padahal ilmuku belum seberapa
apalagi aku buta pengalaman
yahhh insyaAllah sam bil belajar

semangat! fighting!

hari Jumat

pagi ini Uji Kompetensi Bahasa Indonesia...
mata pelajaran yang saya ampu
jadi, saya tidak ada jatah mengawasi anak-anak
hmm lumayan juga bisa ngobrol denganmu....

gimana pagimu?
indah bukan?
semangat ya
bukankah hari ini kau akan terbang menemuiku
aku tunggu ya
di peraduan hatiku yang terindah

lemezzz

hari ini ada ujian kompetensi 1
maklum, harus jaga anak-anak seh..
bete ya ternyata menunggu memang menyebalkan

trus habis dzuhur rapat neh..
padahal udah seneng neh kalo UK pulang jam 12.00
eh ternyata pulangnya tetep jam 2.30
ya sutralah..

tapi pikiran ga fokus neh..
dah pergi kemana-mana
tapi ku coba tuk bertahan
menunggu semuanya usai
hmmmm innallaha ma'ashobirin

Kata Baku

Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI (kecuali ada keterangan lain) dan dianjurkan digunakan, sedangkan kata-kata selanjutnya adalah variasi ejaan lain yang kadang-kadang juga digunakan.
1. aktif, aktip
2. aktivitas, aktifitas
3. al Quran, alquran
4. analisis, analisa
5. Anda, anda
6. apotek, apotik (ingat: apoteker, bukan apotiker)
7. asas, azas
8. atlet, atlit (ingat: atletik, bukan atlitik)
9. bus, bis
10. besok, esok
11. diagnosis, diagnosa
12. ekstrem, ekstrim
13. embus, hembus
14. Februari, Pebruari
15. frekuensi, frekwensi
16. foto, Photo
17. gladi, geladi
18. hierarki, hirarki
19. hipnosis (nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva)
20. ibu kota, ibukota
21. ijazah, ijasah
22. imbau, himbau
23. indera, indra
24. indragiri, inderagiri
25. istri, isteri
26. izin, ijin
27. jadwal, jadual
28. jenderal, jendral
29. Jumat, Jum'at
30. kanker, kangker
31. karier, karir
32. Katolik, Katholik
33. kendaraan, kenderaan
34. komoditi, komoditas [2]
35. komplet, komplit
36. konkret, konkrit, kongkrit
37. kosa kata, kosakata
38. kualitas, kwalitas, kwalitet [2]
39. kuantitas, kwantitas [2]
40. kuitansi, kwitansi
41. kuno, kuna [3]
42. lokakarya, loka karya
43. maaf, ma'af
44. makhluk, mahluk, mahkluk (salah satu yang paling sering salah)
45. mazhab, mahzab
46. metode, metoda
47. mungkir, pungkir (Ingat!)
48. nakhoda, nahkoda, nakoda
49. narasumber, nara sumber (berlaku juga untuk kata belakang lain)
50. nasihat, nasehat
51. negatif, negatip (juga kata-kata lainnya yang serupa)
52. November, Nopember
53. objek, obyek
54. objektif, obyektif/p
55. olahraga, olah raga
56. orang tua, orangtua
57. paham, faham
58. persen, prosen
59. pelepasan, penglepasan
60. penglihatan, pelihatan; pengecualian
61. permukiman, pemukiman
62. perumahan, pengrumahan; baik untuk arti housing maupun PHK
63. pikir, fikir
64. Prancis, Perancis [4]
65. praktik, praktek (Ingat: praktikum, bukan praktekum)
66. provinsi, propinsi
67. putra, putera
68. putri, puteri
69. realitas, realita
70. risiko, resiko
71. saksama, seksama (Ingat!)
72. samudra, samudera
73. sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah)
74. saraf, syaraf
75. sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi)
76. sekretaris, sekertaris
77. sekuriti, sekuritas [2]
78. segitiga, segi tiga
79. selebritas, selebriti
80. sepak bola, sepakbola
81. silakan, silahkan (Ingat!)
82. sintesis, sintesa
83. sistem, sistim
84. sorga, surga, syurga
85. subjek, subyek
86. subjektif, subyektif/p
87. Sumatra, Sumatera
88. standar, standard
89. standardisasi, standarisasi [5]
90. tanda tangan, tandatangan
91. tahta, takhta
92. teknik, tehnik
93. telepon, tel(f/p)on, telefon, tilpon
94. teoretis, teoritis (diserap dari: theoretical)
95. terampil, trampil
96. ubah (=mengganti), rubah (=serigala) -- sepertinya kedua-duanya berlaku
97. utang, hutang (Ingat: piutang, bukan pihutang)
98. wali kota, walikota
99. Yogyakarta, Jogjakarta
100. zaman, jaman

music on

anak-anak lagi uji praktik musik neh...
lumayan lah, suara mereka bening juga
ada yang nyanyi lagu dalam negeri, luar negeri bahkan luar planet he he

owwww ternyata musik itu indah ya
menyenangkan...dan menghanyutkan. waduh kayak laut aje he he
dan bagi yang mendengarkan seperti aku sekarang ini
hmmm mampu membangkitkan gairah..maksudnya???
gairah untuk selalu hidup dan berkarya
music on...

entah

entah apa yang akan terjadi nanti
besok, lusa, pada masa akan datang
entahlah apa kita masih bisa tersenyum, menangis, bahkan tertawa
semuanya ghaib
entah kehidupan seperti apa yang akan kita jalani
kemadegan akal dan kebinasaan perasaan
bahkan kegilaan jiwa
uhhhh...
semuanya ghaib, nisbi dan gelap
tapi toh kita harus berbuat
agar spekulasi hidup tertuju pada realitas mimpi
agar ketika nafas kita terhenti, bukanlah sebuah kesia-siaan hidup

dalam ketidakpastian

di persimpangan jalan
adalah aku yang alpa
terluka,
tersandung bebatuan terjal

kenapa harus ada dua jalan
dua jalan yang harus aku seberangi
mencapai kemandirian
menggapai kesuksesan

ah..jalan di depanku begitu suram
aku tak mampu membaca tanda
petunjuk atau ancamankah
semuanya samar, kabur, dan perlahan tersapu angin malam

pada suatu malam..

pada malam...
aku tumpahkan berjuta perasaanku yang tak karuan
gelisah, pedih, bosan, duka bersemayam
ah...malamku begitu kelam

pada malam...
aku ceritakan kerinduanku yang mendalam
kepadanya..
lelaki pujaan

malamku...
akankah besok engkau masih menemaniku?
mendengarkan semua keluhku
tentang kehidupanku

malamku..
biarlah malam-malam yang sudah kita lalui
hanya jadi kenangan kita berdua
hanya aku dan malamku

Pelajaran Mengarang

Pelajaran mengarang sudah dimulai.

Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.

Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.

Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.

Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”. Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.

Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.

Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.

“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.

***

Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.

“Mama, apakah Sandra punya Papa?”

“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”

Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.

Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.

“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.

Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.

“Anak siapa itu?”

“Marti.”

“Bapaknya?”

“Mana aku tahu!”

Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.

“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”

“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”

Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.

***

Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.

Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.

“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”

Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”

Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.

“Mama kerja apa, sih?”

Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.

Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”

Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.

“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”

“Seperti Mama?”

“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”

Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …

Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.

DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00

Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.

***

Empat puluh menit lewat sudah.

“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.

Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.

Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.

“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.

Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.

Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.

“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.

Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:

Ibuku seorang pelacur…

*Seno Gumira Ajidarma*

Palmerah, 30 November 1991

assalamualaikum...

PERMEN=UANG
“Huh, sebel! Lain kali kalo belanja di sini aku bayar pake permen aja deh!” ujar salah seorang temen saya dengan mukanya yang asem pas abis belanja di Gading Mas.


Saya cuman nyengir, “Hehe…pasti kembaliannya dibayar pake permen?”

Sebenernya kejadian yang dialami temen saya itu masih mending kok, soalnya Swalayan Gading Mas yang ada di Jalan Kaliurang itu ngasih permen untuk mengganti kembalian senilai Rp50. Walaupun emang sih…permen ya nggak bisa disamakan dengan uang, kita kan lagi transaksi jual beli dengan uang sebagai alat tukar, bukan permen. Tapi saya sendiri bisa ngasih excuse dengan alasan mungkin pecahan Rp50 udah jarang ditemukan.

Nah, saya pernah kesel sama Indomaret di deket rumah saya. Pasalnya, kasir di sana HAMPIR SELALU membuat anggapan uang Rp100 = sebuah permen (tentunya mereka milih permen yang harganya paling murah, tentunya di bawah Rp100). Menurut saya, uang pecahan Rp100 itu masih melimpah di bumi Indonesia, kenapa juga diganti permen? Dan mereka nggak main-main dalam ambil keuntungan. Misalnya seharusnya uang kembalian yang saya terima adalah Rp800. Maka dengan liciknya (bukan suudzan, tapi ini hasil analisis perilaku penjual. Hehe…) mereka memberikan uang pecahan Rp500 + 3 biji permen. Omaigat! Apa-apaan ini?

Terkadang saya nggak mau berantem dan ambil pusing. Mencoba lapang dada dengan kelakuan penjual yang nggak menyenangkan itu, kalo kejadiannya hanya 1 permen. Nah, pas 3 permen itu, saya pikir udah kebangetan banget padahal di lacinya ada uang Rp100 kok... Kalaupun misalnya nggak ada uang dan ia terpaksa mengganti dengan permen, kalo ngikutin prinsip syariah yang benar, harusnya penjual minta persetujuan dulu kepada konsumen, apakah keberatan jika uang kembalian Rp100 diganti dengan sebuah permen. Jangan semena-mena gitu. Lagian nggak semua orang doyan permen, seringkali permen dari hasil kembalian seperti itu malah jadi sia-sia.

Nah ketika mendapat kembalian dengan uang pecahan Rp500 + 3 biji permen, saya langsung protes baik-baik sama Mbak Kasir (dapet bonus senyum pula dari saya, hehe...).
“Mbak, lain kali kalo ngasih kembalian pakai uang aja ya, jangan pake permen.”
“Oh...kan ini udah mau lebaran, Mbak. Nggak ada receh.”

GUBRAK!
Saya mikir-mikir apa korelasi antara lebaran dan uang receh. Huh...padahal dulu-dulu saya belanja di situ juga dikasih kembaliannya permen, padahal bukan mau lebaran. Whatever!
Saran saya, buat Anda yang berjualan, jangan deh ngambil keuntungan pakai kamuflase permen sebagai pengganti uang kembalian. Btw, praktek kayak gitu emang bisa lumayan menguntungkan secara materi. Kalo harga satuan permen misalnya Rp50, berarti penjual itu dapet margin keuntungan sebesar Rp50 dari tiap kali mengganti uang Rp100 dengan sebuah permen. Kalo sehari ada seribu konsumen yang diperlakukan seperti itu, berarti hasilnya Rp50 x 1000 = Rp50.000. Asumsi sebulan ada 30 hari. Berarti 30 x Rp50.000 = Rp150.000.
Coba bayangkan kalau pelakunya adalah swalayan besar yang transaksinya banyak banget (yang counter kasirnya aja sampe lebih dari sepuluh, misalnya...) .

Walaupun menguntungkan, tapi caranya nggak sportif. Mendapat keuntungan tanpa pengorbanan apapun. Dan tentunya merugikan konsumen tentunya (Kayak zero-sum game).
http://nulisaja. multiply. com/journal/ item/215/ PERMEN_UANG

_

aku mencintaimu dengan sederhana

hiiiii everybody! i am neea..this is my blog.

ceriakan hari kita dengan senyum